Informasi Terbaru

KH. MAHFUDZ BIN BASUNI

By : PONDOK PESANTREN AL AKHYAR

 

KH. Mahfudz lahir dari pasangan Basuni dan Qolimah. Mahfudz kecil dibesarkan oleh keluarga yang cinta pada ilmu dan ulama.
KH. Mahfudz muda selalu haus akan ilmu, membuatnya mengembara ke berbagai pesantren yang ada di Nusantara, diantaranya Pondok Pesantren Kepang.  Pondok Pesantren Sidoresmo Surabaya dan Pondok Pesantren Al-Akhyar Tambak Agung, yang saat itu diasuh oleh KH. Ismail Sholeh.

KH. Mahfudz ketika nyantri di Al-Akhyar dikenal sebagai santri yang alim, ahli tirakat, serta masyhur dengan sosok yang tawadu dan dermawan. Beliau sering menghatamkan Al-Quran tiap tiga hari sekali. Jadi tidak heran jika kemudian beliau diambil mantu oleh KH. Ismail untuk dinikahkan dengan putrinya yang bernama Nyai Khodijah binti Ismail. Seorang perempuan yang ahli ibadah, zahidah dan wara' pada zamannya.

KH: Mahfudz tercatat menjadi pengasuh Al-Akhyar dari tahun 1967 M. sampai 1987 M. Kemuda KH. Mahfudz wafat pada tahun 1987 M. Dan dimakamkan di Makam Sunan Dalem Kolak.

Diantara pesan beliau kepada putra-putrinya:
Sengkok mekkas dek sedhejeh tang anak lakek, anak binek ben anak mantoh, jhek sampek apangrasah rajeh, otabeh bhegus monggueh dèk Allah. Otabeh dèk padeh manossanah, karnah abanah hedeh sengkok (Aku berpesan kepada putra-putri dan anak menantuku, jangan sampai merasa mulia atau baik dihadapan Allah atau dihadapan manusia, karna ayah kalian adalah saya (beliau selalu merasa dirinya adalah rendah).

Jughen kalakonah pabegus, ropanah cocok kalabaen kareppah syariat. Nabi adhebu:
لقوله صلى الله عليه وسلم من تواضع رفعه الله ومن تكبر وضعه الله
Mogeh" Allah SWT. Ngersa'agih apolong neng Akhirat kalaben sedejeneh.
 برحمة الله تعالى ورضوانه
(juga berbudi pekertilah yang baik, agar sesuai dengan syari'at. Nabi Muhammad bersabda: siapa orang yang tawadhu' (rendah diri/tidak sombong) maka Allah angkat drajatnya, barangsiapa yang sombong maka Allah rendahkan drajatnya.)

"Ben jhek loppah mecah Fatihah dek sengkok ben potranah, saben bektoh jhek gek peggek"
( jangan lupa baca fatihah untukku dan anak kalian setiap waktu (setelah sholat maktubah) jangan sampai putus)


KIAI ISMAIL SHALEH

By : PONDOK PESANTREN AL AKHYAR

Kiai Ismail Shaleh merupakan putra dari Kiai Muhammad Shaleh Tambakagung. Ibunya bernama Nyai Thahiroh binti Jamaluddin Jaddih Bangkalan. Ia dilahirkan di Tambakagung pada hari Kamis tanggal 26 Jumadil Awal 1287 H. (27 Mei 1870 M.).

Terlahir dari nasab yang terhormat dan mencintai keilmuan, menjadikan Kiai Ismail senang dengan ilmu, ia belajar langsung kepada ayahnya sekitar 20 tahun lamanya. Setelah sekian lama belajar di rumah, ia menimba ilmu di Pesantren Jengkebuan Bangkalan asuhan Syaikhona Muhammad Kholil. Di sana Ia mendalami ilmu gramatika bahasa Arab, seperti Tashrif al-‘Izzy, Matan al-Jurumiyah, dan Alfiyah ibnu Malik. 

Selain itu, Kiai Ismail juga mendalami ilmu fikih dengan berguru kepada Syaikh Nawawi (Syaikh Shaleh Tsani bin Muhammad bi Abi Ishaq Sampurnan Bungah Gresik), Kiai Abdullah bin Abdul Mannan Tremas, Kiai Kedungdoro Sepanjang Sidoarjo, dan Kiai Sidoresmo Surabaya, dan Syaikh Muhammad al-Rahbini al-Makki (bermukim di Makkah).

Kiai Ismail Shaleh merupakan pribadi yang zuhud dan wara’, di tengah-tengah masyarakat ia menjadi penasehat dalam berbagai problematika masyarakat. Kiai Ismail Shaleh yang terlahir dari keluarga yang mencintai ibadah, ilmu dan kebaikan, menjadikan pribadinya menghindari hal yang berbau politik praktis dan sangat dekat dengan kaum fakir miskin. Kala itu, Kiai Ismail pernah berkata sebagai nasehat yang ditujukan kepada menantunya Kiai Mahfudz: 

“Berhentilah memikirkan suatu rencana, karena sebaik rencana ada di kuasa-Nya, maka bertakwalah kepada Allah jika (kamu) orang-orang yang beriman”.

Tulisan-tulisannya meliputi manuskrip salinan yang penuh dengan catatan penting, seperti Tashrif al-Izzy karya Syaikh Ali bin Mas’ud Taftazani, Durorul Bahiyah, Fathul Karim, Risalah Syarah Ibrahim al-Bajuri ala ‘Ilmi Tauhid, Matn al-Zubad fi al-Fiqh as-Syafi’I, Matan Al-AJurrumiyah, Syarh Alfiyyah Ibnu Malik karya Syaikhona Muhammad Kholil, Sullam Taufiq, dan Mabhats Zakat. Salah satu karyanya sendiri adalah dan Kitab Tauhid Bahasa Jawa. Apabila dilihat dari karya-karya tersebut, dapat disimpulkan bahwa Kiai Ismail memiliki kepakaran ilmu dalam bidang tata bahasa Arab, akidah, dan fikih. 

Kiai Ismail Shaleh wafat pada hari Sabtu tanggal 14 Shafar 1387 H. (2 Juni 1968 M.) pada pukul 23.45. Terhitung umurnya genap 100 tahun (kalender Hijriyah) atau 97 tahun (Kalender Masehi).

UKK TKJ PUTRI TAHUN 2025

By : PONDOK PESANTREN AL AKHYAR

SMKS AL AKHYAR LABANG

KONSENTRASI KEAHLIAN : TEKNIK KOMPUTER DAN JARINGAN

KEGIATAN : UJIAN KOMPETENSI KEAHLIAN


PENGAWAS UJIAN : 
    1. PENGAWAS EXTERNAL   : ARIF BUDIYANTO S.Kom (madura_technovation)
                                                                Web : https://madura-technovation.web.id

    2. PENGAWAS INTERNAL    : MOHAMMAD SYAMSIH, S.T.


- Copyright © SMP ISLAM BAKTI AGUNG - Pondok Pesantren Al Akhyar - Powered by Blogger - Designed by Mohammad Syamsih, S.T -